Posts

Showing posts with the label filsafat amatir

segala penting...

Tentulah kita bisa sepakat bahwa tidak semua hal itu penting. Karena bila semua hal adalah penting maka semua hal juga sama-sama tidak penting. Namun juga, tidak berarti bila semua hal yang terpikirkan adalah penting. Karena kalau semua yang kita ingat adalah penting, kita akan harus secara sadar/'conscious' mengatur memasukkan dan membuang setiap titik koma yang masuk ke otak kita. Bisa gila kita. ___ Jadi gimana caranya, kalau Semuanya Penting? Ya bagi-bagi tugas lah. Personil yang kita punya, kita masing-masing menentukan konsentrasi masing-masing. Masing-masing tempatkan konsentrasi utama pada bidang utamanya. Kita bantu tugas sesama anggota tim, tapi prioritas kita masing-masing harus menjadi konsentrasi masing-masing. Dan masing-masing tim Hormati prioritas masing-masing. Karena kalau gak bagi tugas, kemudian semua anggota berusaha mengerjakan semua hal yang Penting.... ya, kita manusia bertangan dua, bukan bertangan delapan. ___ Nggak mau dibantah? Ya sudah...

Pantas-tidaknya Amarah Dipertunjukkan…

Renungan pribadi di pagi ini: Kala Anda berhak untuk marah, tidaklah lantas bijak untuk mempertunjukkannya… Bila Anda memang ingin mempertunjukkan amarah Anda, renungkanlah tujuannya: apakah untuk "kemajuan", atau membentuk "dominasi", atau justru sekedar "kejantanan"? :)) Selamat Pagi, selamat menjalankan ibadah Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1934 bagi yang menjalankan, dan semoga semua perenungan masing-masing kita menghasilkan kebijaksanaan dan kebajikan :D

...tembaga antara emas...

...Tapi nggak sih; yang lebih diperlukan adalah kemampuan filter pribadi yang lebih mumpuni. Semua bikin sampah, dan selalu terselip di antara sampah bongkahan-bongkahan... tembaga lah, kalau tidak bisa dikatakan emas ataupun permata. Sekarang jamannya pemenang lomba media mengebom ranah atensi pemirsa dengan fast-food ; berlomba menghasilkan gorengan-gorengan paling renyah yang selalu diincar dan dikunyah khalayak pemirsa yang haus 'hiburan'; mencari 'pelepasan' dari 'kepenatan' dengan 'menyinyiri' semua yang lebih 'rendah' dari mereka (kita) agar mereka (kita) bisa " feel good about ourselves. " Nggak lah. Adalah berguna untuk tau apa yang sedang terjadi di dunia sekitar kita. Mereka para "tukang berita" banyak-banyakan produksi 'gorengan' biar 'dagangan' mereka laku, tapi tetap: selalu ada di antara sampah terkandung sebutir dua butir Berita. Kita butuh filter. Sama seperti kita butuh lemak. Dan tentu, terla...

Falasi "Tong Kosong"

Musuh terbesar demokrasi di Indonesia adalah falasi "Tong Kosong Nyaring Bunyinya." Kenapa? Karena antara "kekosongan tong" dan "nyaringnya bunyi" *tidak* berhubungan. Sebab walau benar bahwa sebuah "tong kosong" bila berbunyi akan berbunyi cukup nyaring, sebaliknya bila berbunyi nyaring *belum tentu* ia adalah tong kosong. Ketika diidentikkan bahwa "berbunyi nyaring" adalah sama dengan menjadi "tong kosong," maka engganlah banyak orang Indonesia, untuk bahkan sama sekali bersuara. --Jakarta, 15 Maret 2011, di tengah kemacetan. Pertama direkam sebagai sebuah voice-note di HP.

Anak Orba ngayal "Beyond the Imagined State"

#pengakuan Dulu waktu gw SD, bokap tanya gw, "Kamu kalau bisa memilih, mau pilih apa?" Gw jawab, "Golkar! Karena mereka berpengalaman." (Bokap tertawa waktu itu, gak tau tapi apa tawa senang, prihatin, atau tawa apa...) ...waktu itu gw yakin banget sama jawaban gw. Gw juga tambahkan, PDI kerjaannya berantem internal mulu. Dan PPP fundamentalis. (Itu waktu gw masih SD, lho :p) (SD kelas 6 kalau nggak salah; atau udah SMP ya? agak-agak lupa...) Kalau sekarang mah... gw lagi demen mikir Beyond the Imagined State. (masih ngayal naif juga sih, hehe :p) --- #PenjelasanSingkat "Beyond the Imagined State" itu maksudnya mengacu pada teorinya Benedict Anderson, bahwa Negara itu hanyalah hasil imajinasi sosial kolektif belaka; kurang lebih "...a product of the social imagination." Agak mengacu anarkisme? Dalam artian anti pemerintahan formal? Oh, belum tentu. ;) Lebih jelasnya silahkan tanya Mbah Gugel sama para ahli ilmu sosial serta kenegaraan. Jangan t...

Woro-woro Monarki

Monarki absolut itu, kalau kepala negaranya bisa menyetir arah negaranya secara absolut, efektif, dan meyakinkan. Republik Indonesia bukan monarki. Boro-boro. Lihat aja pemimpinnya xD Nah pertanyaannya, satu bentuk monarki seperti apakah yang cocok bagi satu bangsa Indonesia? Bila ada? Dan apa perlu? Kalau kita mau melangkah bersama, kita perlu mencari melampaui republikanisme, sosialisme, ataupun monarki, anarki sekalipun. ...Melihat jauh, hingga yang terlihat adalah yang di dalam. #ktgwsi Terpicu ramainya topik Monarki hari ini di ranah Twitter hari ini, gara-gara satu komentar SBY... Jakarta, 30 Nopember 2010 --- Indonesia is a Salad Bowl, not a Melting Pot (gado-gado gitu lho...) -- Berbagai sumber

Kirik Bendera Digital... Ceritanya

Image
Tiba-tiba gw mengangkat tangan aja lho pas komandan bilang, "Hormat, 'grak!" Kepalang tanggung, gw diemin aja sampai "Indonesia Raya" kelar. Padahal gw baru nonton sekarang barusan, pk 18:02, bukan tadi pagi pk 10:00 di indonesiaoptimis.org ... Taulah... Semoga Tuhan membimbing kita semua untuk bisa "Mengisi Kemerdekaan" dengan benar... update 2 Desember 2010 : Koq, apa website indonesiaoptimis.org nggak jadi launching? Udah berapa bulan ini? Wah, kurang optimiskah Indonesia?

masalah tanggung-jawab

"Segala sesuatu harus sopan dan teratur" Susah, adalah yang sekilas terbersit pertama ketika kita pertimbangkan bahwa kehidupan manusia adalah kehidupan sosial. Paling nggak dalam benakku. Kita hidup dengan sesama manusia dengan kepentingannya masing-masing yang selalu berbeda-bedaya, adalah keniscayaan bahwa berbagai kepentingan yang berbeda ini akan senantiasa berbenturan. Bahkan kepentingan antara ibu dan anak-anaknya, antara anak dan lingkungan kerjanya, teman-temannya... Ku ingin untuk melarikan diri dari segala kepentingan ini. Ku ingin hanya untuk tidur lelap tanpa perlu lagi mengkhawatirkan, atau memperdebatkan, atau menginginkan, atau marah. Sungguh kekanak-kanakan. Masalah akan selalu ada. Di manapun, kapanpun, bagaimanapun. Sungguh naif untuk berusaha lari dari masalah (atau tanggung-jawab, tergantung sudut pandang Anda). Kebahagiaan tidak berasal dari tiadanya masalah, tapi dari bagaimana kita hidup dengan masalah. Dan menjadi lebih besar darinya. /I am bigger tha...