Posts

Monty Tiwa tentang Film Nasional

Saat film nasional lahir, film itu adl milik kalian: bebas utk dicintai, dicaci, dimaknai. Apapun itu. Tp milik kalian. Jng biarkan hilang. — monty tiwa (@montytiwa) February 18, 2012 Saat film nasional lahir, film itu adalah milik kalian: bebas untuk dicintai, dicaci, dimaknai. Apapun itu. Tapi milik kalian. Jangan biarkan hilang. Yang sering kita lupa, keindahan film nasional... adalah ada identitas kita sebagai bangsa di situ. Untuk diabadikan. Untuk generasi berikut. Bahkan di film-film horor ecek-ecekpun. Merekam bagaimana kita adalah bangsa yan percaya mistis. Ada karakter-karakter hansip, kunti dsb. Absurd tapi ya inilah kita. Bayangkan... 100 tahun lagi... generasi Indonesia yang ingin tahu detail kehidupan moyangnya, mereka cukup nonton film yang kini di bioskop. --- Parafrase dari beberapa Tweet gubahan Monty Tiwa, medio Februari 2012. Sedikit dilebarkan dan "diatur" tatabahasanya, berhubung di sini tidak dibatasi 140 karakter...

Indonesian Cinema at Berlinale 2012

Image
INDONESIAN CINEMA AT BERLINALE 2012 Dear Friends of Indonesian Cinema,  Indonesia is proud to present the following Indonesian films to be screened at the Berlinale 2012 European Film Market.

Tentang Resital Tunggal Boo Boo Sianturi oleh @danrem

Image
Jakarta, 29 Januari 2012 - pertama diterbitkan oleh pemilik akun twitter @danrem . Diterbitkan ulang dengan seizin Beliau. (Dimuat di sini sambil menunggu approval dari kultuit.tumblr.com hehe :p) Update 6 Februari 2012 - harian  The Jakarta Globe memuat berita liputan konser Boo Boo dalam Bahasa Inggris. Ya sudah, kalau tersinggung. Mari kita ngobrol yg lain. Malam ini sempat saksikan seorang anak muda utk pertama kali bermain musik di Jkt. Anak muda 22 th. Ginastera 'Boo Boo' Sianturi untuk pertama kali resital di Jkt, malam ini ia bermain solo gitar di Gedung Kesenian. Dalam usia 16 th Boo Boo memutuskan utk tidak melanjutkan SMA utk terbang ke Michigan dan memperdalam permainan gitar-nya. Beruntung ibu dan ayah nya mendukung keputusan Boo Boo. Dg semangat itu dia diterima di Interlochen dan kemudia Royal Academy di London. Kembali ke Boo Boo, ibunya Maya Tamara dan ayahnya Serano, Ph.D lulusan MIT yg sekarang mengajar di Cambridge. Mereka mendukung dia. Baik...

Citybike

Biar mau dikata gimana, citybike gw (Rp1.7jt) masih lebih murah dari banyak fixie rakitan... ber-frame lokal sekalipun... Dan ini udah citybike dengan internal hub gear 3 speed lho... keranjang, lampu dinamo depan, mudguard/skirtguard/chainguard komplit... Dan bahkan lebih murah dari folding bike 20" yang sedari dulu gw naksir... Sayangnya, emak masih bergelagat sport jantung tiap kali gw keluarin citybike gw buat menuju ke kantor xD *sigh* -_-" (makanya masih suka kepikiran, tukar citybike dengan folding bike 20" 7-speed...)

Soeharto.

#Soeharto mungkin tolol, tapi dia punya beberapa gagasan yang menurut aku berguna. Wawasan Nusantara dirancang sebagai wadah kesepakatan Bangsa kita akan Identitas Bersama kita; tapi sayangnya... #Soeharto ..Sayangnya Wawasan Nusantara prakteknya menjadi platform para jendral kecil 'tuk penyamaan pikiran; brainwashing / cuci otak. #Soeharto Kesalahan #Soeharto paling tolol adalah membiarkan korupsi menjadi budaya; ninabobokan para serigala kemaruk dengan mammon, pikirnya. Kesalahan tolol dan fatal. #Soeharto Yang jadi para serigala makin menjadi-jadi, dan yang dulunya cecurut atau bahkan domba ikutan jadi serigala. #Soeharto (Paling nggak tuannya nggak ikutan dimakan, pikirnya...) #Soeharto Sekarang, mau dibawa kemana bangsa kita? Mau liberal kapitalis? Hayuuk. Sosialis? Anarkis? Hayuuk. Tapi yang bener dong ngerjainnya. #Soeharto Jangan kaya' banci gak punya pendirian. #Soeharto Kalau mau berdiri ya berdiri. Kalau mau bubar ya bubar. #Soeharto Kumpulan beberapa Tweet-ku di @f_...

...tembaga antara emas...

...Tapi nggak sih; yang lebih diperlukan adalah kemampuan filter pribadi yang lebih mumpuni. Semua bikin sampah, dan selalu terselip di antara sampah bongkahan-bongkahan... tembaga lah, kalau tidak bisa dikatakan emas ataupun permata. Sekarang jamannya pemenang lomba media mengebom ranah atensi pemirsa dengan fast-food ; berlomba menghasilkan gorengan-gorengan paling renyah yang selalu diincar dan dikunyah khalayak pemirsa yang haus 'hiburan'; mencari 'pelepasan' dari 'kepenatan' dengan 'menyinyiri' semua yang lebih 'rendah' dari mereka (kita) agar mereka (kita) bisa " feel good about ourselves. " Nggak lah. Adalah berguna untuk tau apa yang sedang terjadi di dunia sekitar kita. Mereka para "tukang berita" banyak-banyakan produksi 'gorengan' biar 'dagangan' mereka laku, tapi tetap: selalu ada di antara sampah terkandung sebutir dua butir Berita. Kita butuh filter. Sama seperti kita butuh lemak. Dan tentu, terla...

Falasi "Tong Kosong"

Musuh terbesar demokrasi di Indonesia adalah falasi "Tong Kosong Nyaring Bunyinya." Kenapa? Karena antara "kekosongan tong" dan "nyaringnya bunyi" *tidak* berhubungan. Sebab walau benar bahwa sebuah "tong kosong" bila berbunyi akan berbunyi cukup nyaring, sebaliknya bila berbunyi nyaring *belum tentu* ia adalah tong kosong. Ketika diidentikkan bahwa "berbunyi nyaring" adalah sama dengan menjadi "tong kosong," maka engganlah banyak orang Indonesia, untuk bahkan sama sekali bersuara. --Jakarta, 15 Maret 2011, di tengah kemacetan. Pertama direkam sebagai sebuah voice-note di HP.