Posts

Dialog antar ideologi, agama, budaya...

Satu hal, menyambut suatu undangan-undangan untuk berdialog dalam kesetaraan. Lain hal, untuk membuka diri terhadap hinaan dan cercaan berulang-ulang tanpa terjadinya pertukaran pengertian apapun sama sekali. Yang satu adalah menyambut perdamaian, yang lain adalah sado-masokisme. Bisa, Anda membedakan..? ___ Gandaria, 2 Juli 2015

Angelina 2015

Image
Karena aku nggak mau lupa, bahwa ada seorang anak perempuan bernama Angelina, yang tewas terbunuh tiga minggu lalu. " Ditemukan Tewas di Bawah Kandang Ayam, Kasus Angelina Harus Diseriusi Polisi " - 10 Juni, JPNN " #TrenSosial: Kasus Angeline adalah 'kejahatan kemanusiaan' " - 10 Juni, BBC Indonesia " Missing child Angeline found dead in Bali " - 10 Juni, Jakarta Post "Rest in Peace little angel.. #RIPAngeline," tweet @AdhityaZul.

segala penting...

Tentulah kita bisa sepakat bahwa tidak semua hal itu penting. Karena bila semua hal adalah penting maka semua hal juga sama-sama tidak penting. Namun juga, tidak berarti bila semua hal yang terpikirkan adalah penting. Karena kalau semua yang kita ingat adalah penting, kita akan harus secara sadar/'conscious' mengatur memasukkan dan membuang setiap titik koma yang masuk ke otak kita. Bisa gila kita. ___ Jadi gimana caranya, kalau Semuanya Penting? Ya bagi-bagi tugas lah. Personil yang kita punya, kita masing-masing menentukan konsentrasi masing-masing. Masing-masing tempatkan konsentrasi utama pada bidang utamanya. Kita bantu tugas sesama anggota tim, tapi prioritas kita masing-masing harus menjadi konsentrasi masing-masing. Dan masing-masing tim Hormati prioritas masing-masing. Karena kalau gak bagi tugas, kemudian semua anggota berusaha mengerjakan semua hal yang Penting.... ya, kita manusia bertangan dua, bukan bertangan delapan. ___ Nggak mau dibantah? Ya sudah...

Soal Ahok vs. FPI, dari minta bubarkan sampai FPI Tandingan

[ View the story "Soal Ahok vs FPI, dari minta bubarkan sampai FPI Tandingan" on Storify ]

ISIS "ditangkal"? Koq nggak "dibasmi" sekalian?

Sekilas bahasa "Tangkal" mungkin terkesan "cemen" ataupun "banci". Dan mungkin beberapa menyesalkan kenapa nggak memakai kata "basmi". Tapi aku pribadi rasa kata "Tangkal" adalah tepat. Kiranya izinkan aku sedikit panjang-lebar menjelaskan, kalau berkenan. --- Beberapa waktu lalu ada teman di Twitter yang berkilah, "apakah kalian siap berdemokrasi? Karena siap berdemokrasi bukannya siap menerima perbedaan pendapat. Tapi siap menerima kritik." Temanku mengutarakan di atas ini dalam konteks yang berbeda, memang. Yaitu dalam hal "menghormati pendapat yang berbeda (atas nama demokrasi)", yaitu kasus ketika seorang selebritis mengatakan di Twitter, "rindu jaman Orba dan sekaligus kewibawan Bung Karno". Seorang selebritis yang walaupun di bawah umur, namun pendapatnya ini adalah tidak disetujui. (Dengan cukup keras bahkan, kalau nggak mau dikatakan kasar). Jadi kalau kita memandang ISIS sebagai sebuah p...

Jokowi bukan nabi. Aku bukan memilih nabi.

Jokowi bukan nabi. Aku bukan memilih nabi. Aku memilih pekerja. Pekerja yang bersemangat, tidak cepat menyerah, terbuka pada kritikan, pun optimis pula. Dia bisa gagal, oh tentu saja, karena Jokowi bukan seorang nabi. Nabi-nabi aja seringkali gagal, apalagi Jokowi. Tapi Jokowi juga ada kemungkinan berhasil, terutama bila didukung oleh banyak dari kita. Syukur-syukur oleh kita semua. Mudah-mudahan yang memilih Prabowo, juga bukan sedang mencari nabi. Bukan sedang mencari ratu adil. Dan juga yang memilih untuk tidak memilih, semoga tidak sedang memilih untuk menyerah pada kekecewaan. --- Kecewa. Sebuah keyakinan. Kecewa adalah sebuah kebenaran. Kecewa adalah lepas tangan. Kecewa adalah pintar, karena tidak kecewa adalah bodoh. Maka bodohlah semua yang berharap. Bila berhenti berharap adalah pintar, maka pintarnya adalah pintar berbohong. Untuk kebohongan, hanya ada satu kata: Lawan! --- Karena suka-nggak-suka, mau-nggak-mau, Indonesia akan mendapatkan presiden baru 9 Ju...

Pilih Jokowi, lepas jilbab?

Image
#JokowiAdalahKita #salam2jari #ogahdibohongi #pintarpilih2 T: Kok bisa-bisanya ya mereka suruh copot jilbab kalau pilih Jokowi? J: Karena mereka yang menyuruh lepas jilbab merasa memiliki kewenangan untuk menetapkan arti Islam bagi orang lain, dan bagi mereka memilih Jokowi berarti bukan Islam. Pola logika yang sudah tidak bisa lagi membedakan antara partai politik dengan religi. Pola pikir mereka menjadi represif dan intoleran. Mereka yang biasa mencampuradukkan antara pluralisme dan pluralitas kemudian menyatakan bahwa Bhinneka adalah asing. Musyrik. Bisa sampai mengatakan bahwa Pancasila bukan Indonesia. Iya. Ada yang pikirannya seperti ini. Syukur belum semua. Jangan sampai.