7/02/2014

Jokowi bukan nabi. Aku bukan memilih nabi.

Jokowi bukan nabi. Aku bukan memilih nabi. Aku memilih pekerja. Pekerja yang bersemangat, tidak cepat menyerah, terbuka pada kritikan, pun optimis pula.

Dia bisa gagal, oh tentu saja, karena Jokowi bukan seorang nabi. Nabi-nabi aja seringkali gagal, apalagi Jokowi. Tapi Jokowi juga ada kemungkinan berhasil, terutama bila didukung oleh banyak dari kita. Syukur-syukur oleh kita semua.

Mudah-mudahan yang memilih Prabowo, juga bukan sedang mencari nabi. Bukan sedang mencari ratu adil.

Dan juga yang memilih untuk tidak memilih, semoga tidak sedang memilih untuk menyerah pada kekecewaan.

---

Kecewa. Sebuah keyakinan. Kecewa adalah sebuah kebenaran. Kecewa adalah lepas tangan. Kecewa adalah pintar, karena tidak kecewa adalah bodoh.

Maka bodohlah semua yang berharap.

Bila berhenti berharap adalah pintar, maka pintarnya adalah pintar berbohong. Untuk kebohongan, hanya ada satu kata: Lawan!

---

Karena suka-nggak-suka, mau-nggak-mau, Indonesia akan mendapatkan presiden baru 9 Juli ini.

---

Bonus link:
• "Ilusi Pemimpin Besar" - Kompas.com: Indonesia Satu - http://kom.ps/AFkDMZ
• "Pemimpin Tegas" - PramOctavy - http://goo.gl/DHNs3b
• "60 Detik Buat Kamu yang Masih Bingung" - Edward Suhadi dkk. (YouTube) - http://bit.ly/MasihRaguPilpres2014

Akun-akun resmi pribadi Jokowi:
https://www.facebook.com/IndonesiaHebatJokowi
https://twitter.com/jokowi_do2

7/01/2014

Pilih Jokowi, lepas jilbab?

#JokowiAdalahKita #salam2jari #ogahdibohongi #pintarpilih2

T: Kok bisa-bisanya ya mereka suruh copot jilbab kalau pilih Jokowi?

J: Karena mereka yang menyuruh lepas jilbab merasa memiliki kewenangan untuk menetapkan arti Islam bagi orang lain, dan bagi mereka memilih Jokowi berarti bukan Islam.

Pola logika yang sudah tidak bisa lagi membedakan antara partai politik dengan religi. Pola pikir mereka menjadi represif dan intoleran. Mereka yang biasa mencampuradukkan antara pluralisme dan pluralitas kemudian menyatakan bahwa Bhinneka adalah asing. Musyrik. Bisa sampai mengatakan bahwa Pancasila bukan Indonesia.

Iya. Ada yang pikirannya seperti ini. Syukur belum semua. Jangan sampai.


Prabowo-Jokowi sama saja, di-beking-i Orba?

#JokowiAdalahKita #salam2jari #ogahdibohongi #pintarpilih2

T: Dibelakang Jokowi sama saja. Malahan mantan pemerintahan orba. Ada Wiranto cs. Ada pak JK. Sudahlah jangan cemen

J: Daripada ada PKS yang anti Bhinneka Tunggal Ika, anti keberagaman, dan sudah lama minta KPK dibubarkan, ada Prabowo yang tidak setuju dengan demokrasi, ada Hatta Rajasa yang merusak ekonomi negara, ada Aburizal Bakrie yang selalu menghindar dari tanggung jawab lumpur Lapindo, ada Suryadharma Ali yang tersangka korupsi dana haji, ada Amien Rais yang selalu menggulingkan siapapun pemimpin yang didukungnya, dan semuanya sepakat untuk memberikan gelar pahlawan kepada Soeharto, mementahkan perjuangan anti otoritarianisme tahun 98.

Ini bukan memilih yang sempurna karena tidak ada satupun yang sempurna. Ini memilih yang terbaik di antara pilihan yang ada. Memilih yang mengerti aspirasi masyarakat. Memilih yang terbukti bekerja dan bisa diminta pertanggungjawaban. Memilih yang transparan, terbuka, yang lebih baru, dan yang tidak kalah penting, memilih yang punya kebijakan dan pandangan baru dalam menjalankan negara.



4/08/2014

Pemilu 2014, hak politik

Gw merasa cukup beruntung, secara hak politik, tahun ini gw nggak menjadi golput administratif...

Golput prinsipil juga bukan dosa sih, dan aku pribadi juga hormati hak politik tersebut.

Semoga pemerintahan Indonesia ke depan bisa lebih lagi pro-kebebasan berkeyakinan, pro-usaha kecil-menengah, pro-agraria, pro-energi alternatif, pro-hak minoritas, dan pro-kebebasan berpendapat.

...dan pro-HAM juga, tentunya.

---
Satu isu yang banyak terjadi: banyak yang menjadi "Golput Administratif" karena statusnya sebagai "anak rantau"; mungkin ini juga bisa menjadi catatan bagi KPU ke depan, baik dalam hal kebijakan/'policy' ataupun dalam hal metodologi sosialisasi ke para pemilih....

---

 

3/31/2014

Persamaan program capres 2014

Sebenarnya sekilas program-program yang diusung berbagai capres itu memiliki beberapa persamaan, yang bisa aku lihat:
  1. Berdikari
  2. Ketegasan kepemimpinan
  3. Populis (ataupun 'citra' populis)
  4. Ekonomi Kerakyatan
Bahkan visi Prabowo untuk "membangkitkan kembali Macan Asia", juga di-share dengan PDIP pun Golkar sih, dan juga Nasdem....

Soal blueprint, basilah :)) Nggak ada masterplan ekonomi yang bisa jalan di Indonesia selama para elit masih ber-"baris sakit hati" ria dan ogah saling mendukung (bila tak mau katakan cenderung gemar menjegal)....

---

Aku kepikiran, apakah mungkin, bila setelah Pilpres 2014, berbagai pihak yang "bertarung" di Pilpres ini dapat menyatukan usaha, tenaga, dan pemikiran, demi mewujudkan Indonesia yang lebih 1) berdikari, 2) tegas dalam kepemimpinan, 3) populis, serta 4) berekonomi kerakyatan...?

[/noktah pemikiran] [/semoga bisa lebih dikembangkan lagi...]

2/02/2014

Tragedi Layang Casablanca dan "Ali Topan"-nya Motor-Motor di Jalanan Jakarta

Dari Facebook:
KISAH ALI TOPAN : SEPEDA MOTOR DI JAKARTA

Bak Ali Topan anak jalanan, yang saat ini akan diangkat kembali dalam sebuah tayangan. Padatnya jalanan dengan para pengendara motor mungkin tidak akan membuat kita khawatir dan was-was bila di jalanan sopan, tertib dan disiplin mematuhi rambu-rambu lalu lintas.

Tapi yang membuat kita cemas dan gemas adalah ulah sebagian dari mereka yang suka ngebut nyalip kanan dan kiri (zig-zag).
Rasanya saat ini angkot dan kopaja/metromini sudah tidak lagi menjadi “penguasa” jalanan, tapi pengendara motornya yang menguasai jalanan.

Jalan selebar apa pun rasanya akan dipenuhi oleh para pengendara motor, khususnya saat jam berangkat dan pulang kerja. Mereka enggan mengambil sisi kiri jalan yang memang disarankan oleh polantas.

Mengapa bisa begitu? Salah satu hal yang membuat mereka berperilaku begitu (ngebut dan salip sana-sini) adalah peran “propaganda” iklan sepeda motor. Mau motor merek “Y”, “H” maupun “S” semua menampilkan iklan yang menunjukkan kehebatan merek mereka dalam hal KECEPATAN dan KEGESITAN.

Fenomena sosial budaya dan politik yang saat ini saling mengedepankan EGOISME, MAU MENANG SENDIRI, dan TAK PEDULI DENGAN ORANG LAIN.

DPR yang mau menangnya sendiri, pemimpin yang tak acuh dengan golongan lemah, pejabat yang korupsi tapi tidak dituntut oleh keadilan, pengadilan yang sewenang-wenang dengan rakyat kecil, sehingga sifat peduli dan tepo sliro lama kelamaan menjadi luntur.

Maka para pengendara motor seolah ingin PAMER dan menujukkan hal yang serupa: saya mau menang sendiri dan tak peduli dengan orang lain di jalan. Jadi saya ngebut dan zig-ziag yang penting saya selamat dan cepat sampai tujuan. Apakah tindakan saya itu mencelakai atau bisa menimbulkan celaka bagi orang lain di jalan… Yang penting NGEBUT asal SELAMAT ….

(Foto Tempo)
Sayang memang, ketika secara de-facto sepeda motor bisa ngapain aja di jalanan... seolah bebas hukum (selama nggak ada polisi)...

Sederhana aja deh, mulai dari "parkir" di lampu merah di atas zebra cross, bahkan di depannya... (Lantas, emangnya, kalau di lampu merah motor itu tempatnya di mana..?) (Di belakang zebra cross? Emang dikasih (sama mobil)..?)

---
Konteks:

---
Berapa hari yang lalu aku berpikir, rasanya sebagian besar masalah kesehatan jiwa di Jakarta, disebabkan oleh ketegangan di tengah kemacetan jalan raya.... ketidakmampuan penduduknya untuk berakulturasi dengan kenyataan pola lalulintas Jakarta.

Kita semakin buas di jalanan, hanya semata karena kita ingin buas di jalanan. Padahal tidak harus lho; sama sekali tidak harus....

10/18/2013

Antara praduga tak bersalah, hukum jalanan, dan nafsu dendam....

T: Kalau tertangkap basah, masih berlaku azas praduga tak bersalah?

J: Masih. Karena sistem hukum ruang pengadilan, bukan sistem hukum jalanan.

Bahwa nanti di ruang sidang, kelengkapan bukti akan langsung dan jelas menunjukkan, bahwa si terdakwa jelas bersalah, itu lain hal. Dan terjadinya di ruang sidang. Bukan di jalanan. (Idealnya.... :))

Lain halnya tapi ya, kalau kita membicarakan sistem hukum selain sistem hukum pengadilan Misal: sistem hukum jalanan, yang ditentukan oleh adu ngotot, emosi, dan jotos-kotoran di tempat. Atau sistem pengadilan media massa, yang ditentukan nilai sensasi, serta besar-besaran terpaan media di tanah publik. :))

Belum lagi kalau kita bicara, sistem hukum ilahi! XD