2/20/2012

Monty Tiwa tentang Film Nasional

Saat film nasional lahir, film itu adalah milik kalian: bebas untuk dicintai, dicaci, dimaknai. Apapun itu. Tapi milik kalian. Jangan biarkan hilang.

Yang sering kita lupa, keindahan film nasional... adalah ada identitas kita sebagai bangsa di situ. Untuk diabadikan. Untuk generasi berikut. Bahkan di film-film horor ecek-ecekpun. Merekam bagaimana kita adalah bangsa yan percaya mistis. Ada karakter-karakter hansip, kunti dsb. Absurd tapi ya inilah kita.

Bayangkan... 100 tahun lagi... generasi Indonesia yang ingin tahu detail kehidupan moyangnya, mereka cukup nonton film yang kini di bioskop.

2/10/2012

Indonesian Cinema at Berlinale 2012




INDONESIAN CINEMA AT BERLINALE 2012

Dear Friends of Indonesian Cinema, Indonesia is proud to present the following Indonesian films to be screened at the Berlinale 2012 European Film Market.


POSTCARDS FROM THE ZOO
95 Minutes, 35mm Color, 2012 |  Babibuta film, Pallas Film | Directed by Edwin | IN COMPETITION

SCREENING SCHEDULE:
Wednesday, February 15 16:30 at  Berlinale Palast (D)
Thursday, February 16 09:30 at Friedrichstadt-Palast (E)
Thursday, February 16 20:30 at Friedrichstadt-Palast (D)
Sunday, February 19 22:15 at Haus der Berliner Festspiele (D)

Abandoned in the zoo by her father when she was a little girl, Lana grew up surrounded by animals, boundaries and the sounds of a subdued wilderness. Raised by animal trainers, the zoo is the only world she knows. She learns to appreciate the graceful steps of the hippo, the elegance of the giraffe, the dignity of an elephant flipping its ears. As time passes, Lana forgets her father. One day, a handsome young man enters her world, a charismatic cowboy who knows some magic tricks and charms her. Lana falls in love and becomes his assistant in performing magic. At his side, she leaves the zoo for the very first time.

“Postcards From The Zoo“ is a story of longing. In a world that was never built to be a home, young Indonesian director Edwin presents an enchanting romance full of myths, magic and memories. A sensual adventure that is at once unsettling and life-affirming, arranged in beautiful and dreamlike images.


THE MIRROR NEVER LIES
100 minutes, 35mm Color, 2011 | SET Film Production | directed by Kamila Andini | Section: GENERATION KPLUS

SCREENING SCHEDULE:
Wednesday, February 15 12:30 at Haus der Kulturen der Welt Kino 1 (E)
Thursday, February 16 15:30 at Filmtheater am Friedrichshain (E)
Friday, February 17 15:00 at Haus der Kulturen der Welt Kino 1 (E)

Pakis (12) lost her father when he went fishing in the sea. A mirror her father gave her is the only hope for Pakis to meet him again. With a Bajo ritual using mirror and water, she keeps on waiting to see her father’s reflection which never appears. Together with her best friend Lumo (12), Pakis keeps searching for answers from Wakatobi sea. As her mother, Tayung (32) struggles to reconcile conflicted feelings about her missing husband, and a researcher, Tudo (28) visiting their small fishing village.

Wakatobi is located in Southeast Celebes, Indonesia, a marine area which is the biggest coral triangle in the world, Wakatobi is the heart of a priceless marine richness. If in the land, we called tropical forest the lungs of the world, Wakatobi is the capital of the beauty and richness of the world marine. In Indonesian context, Wakatobi is a socio-culture entity that should be a model of maritime perspective which this nation should have.



CHILDREN OF SRIKANDI
75 minutes, digital color, 2012 | Srikandi Films & Celestefilm | Directed by the Children of Srikandi Collective; concept by Laura Coppen | Section: PANORAMA DOCUMENTARY

SCREENING SCHEDULE:
Saturday, February 11 20:00 at CineStar 7 (E)
Sunday, February 12 23:00 at CineStar 7 (E)
Monday, February 13 15:30 at Colosseum 1 (E)
Saturday, February 18 14:30 at CineStar 7 (E)

A little girl wants to be a boy. A bench becomes a home and a witness to life. A house does not feel like home anymore. A veil makes you reflect on religion and sexuality. A verse of a poem is like a day in your life. A Love can be in between. A female stereotype can be deconstructed. A label can be changed. In Children of Srikandi, an omnibus film, participants collectively worked as crew members or actresses in each other’s film. We see that change is possible on all levels of the film: personal, political, and formal.

The moving individual stories are interwoven with the tale of Srikandi, a character still frequently used in the traditional Javanese shadow puppet theatre plays (wayang kulit). In the film, Srikandi is embodied and represented as an inverted mirror image, where the narrative of the wayang kulit moves from fiction to documentary and from the past into the present.


7 DEADLY KISSES
4 minutes, digital color, 2011 | The Fat Cocoon | Directed by Sammaria Simanjuntak | Section: PANORAMA SUPPORTING FILM

SCREENING SCHEDULE:
Saturday, February 11 20:00 CineStar 7 (E)
Sunday, February 12 23:00 CineStar 7 (E)
Monday, February 13 15:30 Colosseum 1 (E)
Saturday, February 18 14:30 CineStar 7 (E)

There are seven deadly kisses that girls hate. Learn them and make girls love you. But first, you have to practice on each other.


--- 

For more information on these and other Indonesian films present at Berlinale, visit us at the Indonesian Cinema booth, Martin-Groupius-Bau Booth #01 email: contact.indonesiafilm@gmail.com


Disclaimer: I'm a volunteer helping the Indonesian delegation, copy-editing some of the promotional materials (as in shortening/lengthening the text we receive from the filmmakers/producers to fit our various promotional materials etc.) I'm not helping out in person in Berlin though unfortunately hehe ^^"

1/29/2012

Tentang Resital Tunggal Boo Boo Sianturi oleh @danrem


Jakarta, 29 Januari 2012 - pertama diterbitkan oleh pemilik akun twitter @danrem. Diterbitkan ulang dengan seizin Beliau. (Dimuat di sini sambil menunggu approval dari kultuit.tumblr.com hehe :p)

Update 6 Februari 2012 - harian The Jakarta Globe memuat berita liputan konser Boo Boo dalam Bahasa Inggris.

Ya sudah, kalau tersinggung. Mari kita ngobrol yg lain. Malam ini sempat saksikan seorang anak muda utk pertama kali bermain musik di Jkt.

Anak muda 22 th. Ginastera 'Boo Boo' Sianturi untuk pertama kali resital di Jkt, malam ini ia bermain solo gitar di Gedung Kesenian.

Dalam usia 16 th Boo Boo memutuskan utk tidak melanjutkan SMA utk terbang ke Michigan dan memperdalam permainan gitar-nya.

Beruntung ibu dan ayah nya mendukung keputusan Boo Boo. Dg semangat itu dia diterima di Interlochen dan kemudia Royal Academy di London.

Kembali ke Boo Boo, ibunya Maya Tamara dan ayahnya Serano, Ph.D lulusan MIT yg sekarang mengajar di Cambridge. Mereka mendukung dia.

Baik di Interlochen dan Royal Academy of Art Boo Boo selalu bisa tembus master class dg beasiswa penuh, luluspun selalu menjadi yg terbaik.

Selesai bersekolah dan nyantri ke beberapa 'dewa' gitar klasik Boo Boo pun diundang untuk tampil dlm festival musik klasik dunia.

Boo Boo al. tampil di Bowdoin Fest, Maine, AS. Voltera Guitar, Tuscany, Italia, dll. Terakhir tampil di Fest de Cordoba, Spanyol

Tadi Boo Boo memainkan 6 komposisi karya Sor, Downland, Ponce/ Weiss, Barrios, Diabelli dan Leo Brouwer.

Khusus untuk Ponce, Boo Boo mainkan Suite in La Magiore sebuah komposisi yg hilang sehingga para maestro gitar terdorong tulis transkripsi.

Utk karya Brouwer, Rito de Los Orishas adalah komposisi yg terilhami oleh ritus menaklukan roh jahat di Kuba. Musik yg dinamis tp spooky.

Tadi sore/ malam menikmati ayunan gitar klasik Boo Boo, anak muda berbakat dan penuh kreativitas. Ini resital pertamanya di Indonesia.

Oh ya setelah putuskan utk total bermusik dan sebelum ke Interlochen, Boo Boo diajak Tagor Siagian ngobrol dg Eet Syachrani, gitaris Edane

Nasihat Eet pada Boo Boo -saat itu baru lulus smp- 6 th yg lalu: Org akan ingat bukan berapa jago anda bergitar. Tetapi karena karya anda

Dari sanalah Boo Boo bertekad utk tumbuh menjadi gitaris klasik yang dpt berkarya. Kita patut bangga krn Indonesia milki anak muda spt dia.

All in all, great musical evening with friends. Semoga Boo Boo bisa terus berkembang menjadi wakil Indonesia di kancah gitar klasik dunia.

Boo Boo saat sesi pemanasan & pemotretan, sebelum resital tunggalnya dimulai

5/23/2011

Citybike

Biar mau dikata gimana, citybike gw (Rp1.7jt) masih lebih murah dari banyak fixie rakitan... ber-frame lokal sekalipun...

Dan ini udah citybike dengan internal hub gear 3 speed lho... keranjang, lampu dinamo depan, mudguard/skirtguard/chainguard komplit...
Dan bahkan lebih murah dari folding bike 20" yang sedari dulu gw naksir...

Sayangnya, emak masih bergelagat sport jantung tiap kali gw keluarin citybike gw buat menuju ke kantor xD *sigh* -_-"
(makanya masih suka kepikiran, tukar citybike dengan folding bike 20" 7-speed...)

5/16/2011

Soeharto.

#Soeharto mungkin tolol, tapi dia punya beberapa gagasan yang menurut aku berguna.

Wawasan Nusantara dirancang sebagai wadah kesepakatan Bangsa kita akan Identitas Bersama kita; tapi sayangnya... #Soeharto

..Sayangnya Wawasan Nusantara prakteknya menjadi platform para jendral kecil 'tuk penyamaan pikiran; brainwashing / cuci otak. #Soeharto

Kesalahan #Soeharto paling tolol adalah membiarkan korupsi menjadi budaya; ninabobokan para serigala kemaruk dengan mammon, pikirnya.

Kesalahan tolol dan fatal. #Soeharto

Yang jadi para serigala makin menjadi-jadi, dan yang dulunya cecurut atau bahkan domba ikutan jadi serigala. #Soeharto

(Paling nggak tuannya nggak ikutan dimakan, pikirnya...) #Soeharto

Sekarang, mau dibawa kemana bangsa kita? Mau liberal kapitalis? Hayuuk. Sosialis? Anarkis? Hayuuk. Tapi yang bener dong ngerjainnya. #Soeharto

Jangan kaya' banci gak punya pendirian. #Soeharto

Kalau mau berdiri ya berdiri. Kalau mau bubar ya bubar. #Soeharto

Kumpulan beberapa Tweet-ku di @f_fz yang terinspirasi oleh beberapa pernyataan sentilan @soundofyogi; antara lain bahwa "yang bilang lebih enak jaman Soeharto gue ludahin", dan "Soeharto itu tolol tapi kejam."

4/08/2011

...tembaga antara emas...

...Tapi nggak sih; yang lebih diperlukan adalah kemampuan filter pribadi yang lebih mumpuni. Semua bikin sampah, dan selalu terselip di antara sampah bongkahan-bongkahan... tembaga lah, kalau tidak bisa dikatakan emas ataupun permata.

Sekarang jamannya pemenang lomba media mengebom ranah atensi pemirsa dengan fast-food; berlomba menghasilkan gorengan-gorengan paling renyah yang selalu diincar dan dikunyah khalayak pemirsa yang haus 'hiburan'; mencari 'pelepasan' dari 'kepenatan' dengan 'menyinyiri' semua yang lebih 'rendah' dari mereka (kita) agar mereka (kita) bisa "feel good about ourselves."

Nggak lah. Adalah berguna untuk tau apa yang sedang terjadi di dunia sekitar kita. Mereka para "tukang berita" banyak-banyakan produksi 'gorengan' biar 'dagangan' mereka laku, tapi tetap: selalu ada di antara sampah terkandung sebutir dua butir Berita. Kita butuh filter. Sama seperti kita butuh lemak. Dan tentu, terlalu banyak lemak, dan jantungan koronerlah kita xD

Jakarta, 7 Maret 2011

3/29/2011

Falasi "Tong Kosong"

Musuh terbesar demokrasi di Indonesia adalah falasi "Tong Kosong Nyaring Bunyinya." Kenapa? Karena antara "kekosongan tong" dan "nyaringnya bunyi" *tidak* berhubungan.

Sebab walau benar bahwa sebuah "tong kosong" bila berbunyi akan berbunyi cukup nyaring, sebaliknya bila berbunyi nyaring *belum tentu* ia adalah tong kosong.

Ketika diidentikkan bahwa "berbunyi nyaring" adalah sama dengan menjadi "tong kosong," maka engganlah banyak orang Indonesia, untuk bahkan sama sekali bersuara.

--Jakarta, 15 Maret 2011, di tengah kemacetan. Pertama direkam sebagai sebuah voice-note di HP.