8/02/2014

ISIS "ditangkal"? Koq nggak "dibasmi" sekalian?

Sekilas bahasa "Tangkal" mungkin terkesan "cemen" ataupun "banci". Dan mungkin beberapa menyesalkan kenapa nggak memakai kata "basmi". Tapi aku pribadi rasa kata "Tangkal" adalah tepat.

Kiranya izinkan aku sedikit panjang-lebar menjelaskan, kalau berkenan.

---

Beberapa waktu lalu ada teman di Twitter yang berkilah, "apakah kalian siap berdemokrasi? Karena siap berdemokrasi bukannya siap menerima perbedaan pendapat. Tapi siap menerima kritik."

Temanku mengutarakan di atas ini dalam konteks yang berbeda, memang. Yaitu dalam hal "menghormati pendapat yang berbeda (atas nama demokrasi)", yaitu kasus ketika seorang selebritis mengatakan di Twitter, "rindu jaman Orba dan sekaligus kewibawan Bung Karno". Seorang selebritis yang walaupun di bawah umur, namun pendapatnya ini adalah tidak disetujui. (Dengan cukup keras bahkan, kalau nggak mau dikatakan kasar).

Jadi kalau kita memandang ISIS sebagai sebuah pergerakan ataupun opini, aku setuju bahwa lebih tepat untuk *mengkritik* segala kelemahan (ataupun bahkan *bahaya*) yang melekat pada ideologi pergerakan ISIS, daripada melarang diskusi tentang paham ISIS itu sendiri. Kita *tidak boleh* takut mengatakan bahwa ISIS itu MENGANUT paham-paham yang kita TIDAK SEPAKATI.

Paham-paham seperti misalnya menghalalkan darah kaum "kafir", menghilangkan negara-negara, menganggap mereka yang "tidak sepaham" dengan mereka sebagai "lebih rendah dari manusia", SEHINGGA MEREKA PERLAKUKAN SEPERTI BINATANG.

Karena kalau kita tidak memahami bagaimana bentuk ideologi yang dibawa oleh ISIS, kita MENJADI BUTA akan apa yang HARUS KITA TENTANG.

Dan kalau mereka sudah bertindak kriminal (seperti misalnya melakukan aksi teror kekerasan, melakukan tindak pidana seperti pencurian ataupun penculikan, melakukan tindakan-tindakan nyata yang mengusahakan makar terhadap RI), tentu ini semua sudah diatur dalam berbagai PASAL PIDANA DAN PERDATA yang sudah kita sepakati bersama dalam sistem hukum kita.

Karena kerangka hukum yang sudah kita sepakati bersama sebagai sebuah NKRI telah kita sepakati bersama sebagai sebuah bangsa, demi kita dapat hidup berdampingan dalam sebuah negara bersama.

---

Bacaan terkait:

7/02/2014

Jokowi bukan nabi. Aku bukan memilih nabi.

Jokowi bukan nabi. Aku bukan memilih nabi. Aku memilih pekerja. Pekerja yang bersemangat, tidak cepat menyerah, terbuka pada kritikan, pun optimis pula.

Dia bisa gagal, oh tentu saja, karena Jokowi bukan seorang nabi. Nabi-nabi aja seringkali gagal, apalagi Jokowi. Tapi Jokowi juga ada kemungkinan berhasil, terutama bila didukung oleh banyak dari kita. Syukur-syukur oleh kita semua.

Mudah-mudahan yang memilih Prabowo, juga bukan sedang mencari nabi. Bukan sedang mencari ratu adil.

Dan juga yang memilih untuk tidak memilih, semoga tidak sedang memilih untuk menyerah pada kekecewaan.

---

Kecewa. Sebuah keyakinan. Kecewa adalah sebuah kebenaran. Kecewa adalah lepas tangan. Kecewa adalah pintar, karena tidak kecewa adalah bodoh.

Maka bodohlah semua yang berharap.

Bila berhenti berharap adalah pintar, maka pintarnya adalah pintar berbohong. Untuk kebohongan, hanya ada satu kata: Lawan!

---

Karena suka-nggak-suka, mau-nggak-mau, Indonesia akan mendapatkan presiden baru 9 Juli ini.

---

Bonus link:
• "Ilusi Pemimpin Besar" - Kompas.com: Indonesia Satu - http://kom.ps/AFkDMZ
• "Pemimpin Tegas" - PramOctavy - http://goo.gl/DHNs3b
• "60 Detik Buat Kamu yang Masih Bingung" - Edward Suhadi dkk. (YouTube) - http://bit.ly/MasihRaguPilpres2014

Akun-akun resmi pribadi Jokowi:
https://www.facebook.com/IndonesiaHebatJokowi
https://twitter.com/jokowi_do2

7/01/2014

Pilih Jokowi, lepas jilbab?

#JokowiAdalahKita #salam2jari #ogahdibohongi #pintarpilih2

T: Kok bisa-bisanya ya mereka suruh copot jilbab kalau pilih Jokowi?

J: Karena mereka yang menyuruh lepas jilbab merasa memiliki kewenangan untuk menetapkan arti Islam bagi orang lain, dan bagi mereka memilih Jokowi berarti bukan Islam.

Pola logika yang sudah tidak bisa lagi membedakan antara partai politik dengan religi. Pola pikir mereka menjadi represif dan intoleran. Mereka yang biasa mencampuradukkan antara pluralisme dan pluralitas kemudian menyatakan bahwa Bhinneka adalah asing. Musyrik. Bisa sampai mengatakan bahwa Pancasila bukan Indonesia.

Iya. Ada yang pikirannya seperti ini. Syukur belum semua. Jangan sampai.


Prabowo-Jokowi sama saja, di-beking-i Orba?

#JokowiAdalahKita #salam2jari #ogahdibohongi #pintarpilih2

T: Dibelakang Jokowi sama saja. Malahan mantan pemerintahan orba. Ada Wiranto cs. Ada pak JK. Sudahlah jangan cemen

J: Daripada ada PKS yang anti Bhinneka Tunggal Ika, anti keberagaman, dan sudah lama minta KPK dibubarkan, ada Prabowo yang tidak setuju dengan demokrasi, ada Hatta Rajasa yang merusak ekonomi negara, ada Aburizal Bakrie yang selalu menghindar dari tanggung jawab lumpur Lapindo, ada Suryadharma Ali yang tersangka korupsi dana haji, ada Amien Rais yang selalu menggulingkan siapapun pemimpin yang didukungnya, dan semuanya sepakat untuk memberikan gelar pahlawan kepada Soeharto, mementahkan perjuangan anti otoritarianisme tahun 98.

Ini bukan memilih yang sempurna karena tidak ada satupun yang sempurna. Ini memilih yang terbaik di antara pilihan yang ada. Memilih yang mengerti aspirasi masyarakat. Memilih yang terbukti bekerja dan bisa diminta pertanggungjawaban. Memilih yang transparan, terbuka, yang lebih baru, dan yang tidak kalah penting, memilih yang punya kebijakan dan pandangan baru dalam menjalankan negara.



4/08/2014

Pemilu 2014, hak politik

Gw merasa cukup beruntung, secara hak politik, tahun ini gw nggak menjadi golput administratif...

Golput prinsipil juga bukan dosa sih, dan aku pribadi juga hormati hak politik tersebut.

Semoga pemerintahan Indonesia ke depan bisa lebih lagi pro-kebebasan berkeyakinan, pro-usaha kecil-menengah, pro-agraria, pro-energi alternatif, pro-hak minoritas, dan pro-kebebasan berpendapat.

...dan pro-HAM juga, tentunya.

---
Satu isu yang banyak terjadi: banyak yang menjadi "Golput Administratif" karena statusnya sebagai "anak rantau"; mungkin ini juga bisa menjadi catatan bagi KPU ke depan, baik dalam hal kebijakan/'policy' ataupun dalam hal metodologi sosialisasi ke para pemilih....

---

 

3/31/2014

Persamaan program capres 2014

Sebenarnya sekilas program-program yang diusung berbagai capres itu memiliki beberapa persamaan, yang bisa aku lihat:
  1. Berdikari
  2. Ketegasan kepemimpinan
  3. Populis (ataupun 'citra' populis)
  4. Ekonomi Kerakyatan
Bahkan visi Prabowo untuk "membangkitkan kembali Macan Asia", juga di-share dengan PDIP pun Golkar sih, dan juga Nasdem....

Soal blueprint, basilah :)) Nggak ada masterplan ekonomi yang bisa jalan di Indonesia selama para elit masih ber-"baris sakit hati" ria dan ogah saling mendukung (bila tak mau katakan cenderung gemar menjegal)....

---

Aku kepikiran, apakah mungkin, bila setelah Pilpres 2014, berbagai pihak yang "bertarung" di Pilpres ini dapat menyatukan usaha, tenaga, dan pemikiran, demi mewujudkan Indonesia yang lebih 1) berdikari, 2) tegas dalam kepemimpinan, 3) populis, serta 4) berekonomi kerakyatan...?

[/noktah pemikiran] [/semoga bisa lebih dikembangkan lagi...]