4/08/2014

Pemilu 2014, hak politik

Gw merasa cukup beruntung, secara hak politik, tahun ini gw nggak menjadi golput administratif...

Golput prinsipil juga bukan dosa sih, dan aku pribadi juga hormati hak politik tersebut.

Semoga pemerintahan Indonesia ke depan bisa lebih lagi pro-kebebasan berkeyakinan, pro-usaha kecil-menengah, pro-agraria, pro-energi alternatif, pro-hak minoritas, dan pro-kebebasan berpendapat.

...dan pro-HAM juga, tentunya.

---
Satu isu yang banyak terjadi: banyak yang menjadi "Golput Administratif" karena statusnya sebagai "anak rantau"; mungkin ini juga bisa menjadi catatan bagi KPU ke depan, baik dalam hal kebijakan/'policy' ataupun dalam hal metodologi sosialisasi ke para pemilih....

---

 

3/31/2014

Persamaan program capres 2014

Sebenarnya sekilas program-program yang diusung berbagai capres itu memiliki beberapa persamaan, yang bisa aku lihat:
  1. Berdikari
  2. Ketegasan kepemimpinan
  3. Populis (ataupun 'citra' populis)
  4. Ekonomi Kerakyatan
Bahkan visi Prabowo untuk "membangkitkan kembali Macan Asia", juga di-share dengan PDIP pun Golkar sih, dan juga Nasdem....

Soal blueprint, basilah :)) Nggak ada masterplan ekonomi yang bisa jalan di Indonesia selama para elit masih ber-"baris sakit hati" ria dan ogah saling mendukung (bila tak mau katakan cenderung gemar menjegal)....

---

Aku kepikiran, apakah mungkin, bila setelah Pilpres 2014, berbagai pihak yang "bertarung" di Pilpres ini dapat menyatukan usaha, tenaga, dan pemikiran, demi mewujudkan Indonesia yang lebih 1) berdikari, 2) tegas dalam kepemimpinan, 3) populis, serta 4) berekonomi kerakyatan...?

[/noktah pemikiran] [/semoga bisa lebih dikembangkan lagi...]

2/02/2014

Tragedi Layang Casablanca dan "Ali Topan"-nya Motor-Motor di Jalanan Jakarta

Dari Facebook:
KISAH ALI TOPAN : SEPEDA MOTOR DI JAKARTA

Bak Ali Topan anak jalanan, yang saat ini akan diangkat kembali dalam sebuah tayangan. Padatnya jalanan dengan para pengendara motor mungkin tidak akan membuat kita khawatir dan was-was bila di jalanan sopan, tertib dan disiplin mematuhi rambu-rambu lalu lintas.

Tapi yang membuat kita cemas dan gemas adalah ulah sebagian dari mereka yang suka ngebut nyalip kanan dan kiri (zig-zag).
Rasanya saat ini angkot dan kopaja/metromini sudah tidak lagi menjadi “penguasa” jalanan, tapi pengendara motornya yang menguasai jalanan.

Jalan selebar apa pun rasanya akan dipenuhi oleh para pengendara motor, khususnya saat jam berangkat dan pulang kerja. Mereka enggan mengambil sisi kiri jalan yang memang disarankan oleh polantas.

Mengapa bisa begitu? Salah satu hal yang membuat mereka berperilaku begitu (ngebut dan salip sana-sini) adalah peran “propaganda” iklan sepeda motor. Mau motor merek “Y”, “H” maupun “S” semua menampilkan iklan yang menunjukkan kehebatan merek mereka dalam hal KECEPATAN dan KEGESITAN.

Fenomena sosial budaya dan politik yang saat ini saling mengedepankan EGOISME, MAU MENANG SENDIRI, dan TAK PEDULI DENGAN ORANG LAIN.

DPR yang mau menangnya sendiri, pemimpin yang tak acuh dengan golongan lemah, pejabat yang korupsi tapi tidak dituntut oleh keadilan, pengadilan yang sewenang-wenang dengan rakyat kecil, sehingga sifat peduli dan tepo sliro lama kelamaan menjadi luntur.

Maka para pengendara motor seolah ingin PAMER dan menujukkan hal yang serupa: saya mau menang sendiri dan tak peduli dengan orang lain di jalan. Jadi saya ngebut dan zig-ziag yang penting saya selamat dan cepat sampai tujuan. Apakah tindakan saya itu mencelakai atau bisa menimbulkan celaka bagi orang lain di jalan… Yang penting NGEBUT asal SELAMAT ….

(Foto Tempo)
Sayang memang, ketika secara de-facto sepeda motor bisa ngapain aja di jalanan... seolah bebas hukum (selama nggak ada polisi)...

Sederhana aja deh, mulai dari "parkir" di lampu merah di atas zebra cross, bahkan di depannya... (Lantas, emangnya, kalau di lampu merah motor itu tempatnya di mana..?) (Di belakang zebra cross? Emang dikasih (sama mobil)..?)

---
Konteks:

---
Berapa hari yang lalu aku berpikir, rasanya sebagian besar masalah kesehatan jiwa di Jakarta, disebabkan oleh ketegangan di tengah kemacetan jalan raya.... ketidakmampuan penduduknya untuk berakulturasi dengan kenyataan pola lalulintas Jakarta.

Kita semakin buas di jalanan, hanya semata karena kita ingin buas di jalanan. Padahal tidak harus lho; sama sekali tidak harus....

10/18/2013

Antara praduga tak bersalah, hukum jalanan, dan nafsu dendam....

T: Kalau tertangkap basah, masih berlaku azas praduga tak bersalah?

J: Masih. Karena sistem hukum ruang pengadilan, bukan sistem hukum jalanan.

Bahwa nanti di ruang sidang, kelengkapan bukti akan langsung dan jelas menunjukkan, bahwa si terdakwa jelas bersalah, itu lain hal. Dan terjadinya di ruang sidang. Bukan di jalanan. (Idealnya.... :))

Lain halnya tapi ya, kalau kita membicarakan sistem hukum selain sistem hukum pengadilan Misal: sistem hukum jalanan, yang ditentukan oleh adu ngotot, emosi, dan jotos-kotoran di tempat. Atau sistem pengadilan media massa, yang ditentukan nilai sensasi, serta besar-besaran terpaan media di tanah publik. :))

Belum lagi kalau kita bicara, sistem hukum ilahi! XD

10/16/2013

Orang Indonesia itu malas bertengkar, kecuali kalau sudah kepepet banget....

Orang indonesia itu malas bertengkar, kecuali kalau sudah kepepet banget.

Tapi begitu bertengkar dalam keadaan kepepet, wah... buas; hampir sepenuhnya nafsu, fan tidak kenal yang namanya gengsi, kehormatan, moral, ataupun aturan apakah namanya itu.

10/15/2013

Guyon "Bebaskan Kambing"

Guyon "bebaskan kambing", dan pro-kontranya dari tahun ke tahun, di sela Idul Adha: antara sekedar becanda, ketidaknyamanan melihat makhluk hidup disembelih, keinginan ego menjustifikasi ritual dan kepercayaan, simbolisme akan pengorbanan, kegiatan sosial untuk berbagi kepada "sesama" (atau, mereka yang "kurang beruntung")... dan sebagainya dan sebagainya...

Guyon adalah penyaluran, katarsis; demikian juga ritual....

(Debat kusir juga kali ya...) #eh ^_^Y

~~
Udah ah. Selamat merayakan Idul Kurban bagi yang merayakan. :)

5/27/2013

Wisata Waisak 2013

Hmm, berapa hari ini lagi banyak blog post ditulis tentang bagaimana wisata Waisak ke Borobudur mengganggu kekhusukan ibadah....

Berarti aku sendiri udah nggak perlu lah ya menulis tentangnya? :))

(Lagian aku sendiri juga nggak di sana saat kejadian....)

---
Sempat juga aku membaca sebuah Tweet ide bagus: festival Waisak dan ibadah Waisak dilaksanakan pada dua hari yang berbeda....