7/02/2015

Dialog antar ideologi, agama, budaya...

Satu hal, menyambut suatu undangan-undangan untuk berdialog dalam kesetaraan.

Lain hal, untuk membuka diri terhadap hinaan dan cercaan berulang-ulang tanpa terjadinya pertukaran pengertian apapun sama sekali.

Yang satu adalah menyambut perdamaian, yang lain adalah sado-masokisme.

Bisa, Anda membedakan..?

___
Gandaria, 2 Juli 2015

6/11/2015

Angelina 2015

Karena aku nggak mau lupa, bahwa ada seorang anak perempuan bernama Angelina, yang tewas terbunuh tiga minggu lalu.
"Rest in Peace little angel.. #RIPAngeline," tweet @AdhityaZul.

4/17/2015

segala penting...

Tentulah kita bisa sepakat bahwa tidak semua hal itu penting. Karena bila semua hal adalah penting maka semua hal juga sama-sama tidak penting.

Namun juga, tidak berarti bila semua hal yang terpikirkan adalah penting. Karena kalau semua yang kita ingat adalah penting, kita akan harus secara sadar/'conscious' mengatur memasukkan dan membuang setiap titik koma yang masuk ke otak kita. Bisa gila kita.

___

Jadi gimana caranya, kalau Semuanya Penting? Ya bagi-bagi tugas lah.

Personil yang kita punya, kita masing-masing menentukan konsentrasi masing-masing. Masing-masing tempatkan konsentrasi utama pada bidang utamanya. Kita bantu tugas sesama anggota tim, tapi prioritas kita masing-masing harus menjadi konsentrasi masing-masing. Dan masing-masing tim Hormati prioritas masing-masing.

Karena kalau gak bagi tugas, kemudian semua anggota berusaha mengerjakan semua hal yang Penting.... ya, kita manusia bertangan dua, bukan bertangan delapan.

___

Nggak mau dibantah? Ya sudah. Yes-men semua lah anggota tim mu. Dan kau tau sendiri kan akibatnya, perusahaan yang isinya yes-men semua? Bubar jalan.

Bubar jalan.

8/02/2014

ISIS "ditangkal"? Koq nggak "dibasmi" sekalian?

Sekilas bahasa "Tangkal" mungkin terkesan "cemen" ataupun "banci". Dan mungkin beberapa menyesalkan kenapa nggak memakai kata "basmi". Tapi aku pribadi rasa kata "Tangkal" adalah tepat.

Kiranya izinkan aku sedikit panjang-lebar menjelaskan, kalau berkenan.

---

Beberapa waktu lalu ada teman di Twitter yang berkilah, "apakah kalian siap berdemokrasi? Karena siap berdemokrasi bukannya siap menerima perbedaan pendapat. Tapi siap menerima kritik."

Temanku mengutarakan di atas ini dalam konteks yang berbeda, memang. Yaitu dalam hal "menghormati pendapat yang berbeda (atas nama demokrasi)", yaitu kasus ketika seorang selebritis mengatakan di Twitter, "rindu jaman Orba dan sekaligus kewibawan Bung Karno". Seorang selebritis yang walaupun di bawah umur, namun pendapatnya ini adalah tidak disetujui. (Dengan cukup keras bahkan, kalau nggak mau dikatakan kasar).

Jadi kalau kita memandang ISIS sebagai sebuah pergerakan ataupun opini, aku setuju bahwa lebih tepat untuk *mengkritik* segala kelemahan (ataupun bahkan *bahaya*) yang melekat pada ideologi pergerakan ISIS, daripada melarang diskusi tentang paham ISIS itu sendiri. Kita *tidak boleh* takut mengatakan bahwa ISIS itu MENGANUT paham-paham yang kita TIDAK SEPAKATI.

Paham-paham seperti misalnya menghalalkan darah kaum "kafir", menghilangkan negara-negara, menganggap mereka yang "tidak sepaham" dengan mereka sebagai "lebih rendah dari manusia", SEHINGGA MEREKA PERLAKUKAN SEPERTI BINATANG.

Karena kalau kita tidak memahami bagaimana bentuk ideologi yang dibawa oleh ISIS, kita MENJADI BUTA akan apa yang HARUS KITA TENTANG.

Dan kalau mereka sudah bertindak kriminal (seperti misalnya melakukan aksi teror kekerasan, melakukan tindak pidana seperti pencurian ataupun penculikan, melakukan tindakan-tindakan nyata yang mengusahakan makar terhadap RI), tentu ini semua sudah diatur dalam berbagai PASAL PIDANA DAN PERDATA yang sudah kita sepakati bersama dalam sistem hukum kita.

Karena kerangka hukum yang sudah kita sepakati bersama sebagai sebuah NKRI telah kita sepakati bersama sebagai sebuah bangsa, demi kita dapat hidup berdampingan dalam sebuah negara bersama.

---

Bacaan terkait:

7/02/2014

Jokowi bukan nabi. Aku bukan memilih nabi.

Jokowi bukan nabi. Aku bukan memilih nabi. Aku memilih pekerja. Pekerja yang bersemangat, tidak cepat menyerah, terbuka pada kritikan, pun optimis pula.

Dia bisa gagal, oh tentu saja, karena Jokowi bukan seorang nabi. Nabi-nabi aja seringkali gagal, apalagi Jokowi. Tapi Jokowi juga ada kemungkinan berhasil, terutama bila didukung oleh banyak dari kita. Syukur-syukur oleh kita semua.

Mudah-mudahan yang memilih Prabowo, juga bukan sedang mencari nabi. Bukan sedang mencari ratu adil.

Dan juga yang memilih untuk tidak memilih, semoga tidak sedang memilih untuk menyerah pada kekecewaan.

---

Kecewa. Sebuah keyakinan. Kecewa adalah sebuah kebenaran. Kecewa adalah lepas tangan. Kecewa adalah pintar, karena tidak kecewa adalah bodoh.

Maka bodohlah semua yang berharap.

Bila berhenti berharap adalah pintar, maka pintarnya adalah pintar berbohong. Untuk kebohongan, hanya ada satu kata: Lawan!

---

Karena suka-nggak-suka, mau-nggak-mau, Indonesia akan mendapatkan presiden baru 9 Juli ini.

---

Bonus link:
• "Ilusi Pemimpin Besar" - Kompas.com: Indonesia Satu - http://kom.ps/AFkDMZ
• "Pemimpin Tegas" - PramOctavy - http://goo.gl/DHNs3b
• "60 Detik Buat Kamu yang Masih Bingung" - Edward Suhadi dkk. (YouTube) - http://bit.ly/MasihRaguPilpres2014

Akun-akun resmi pribadi Jokowi:
https://www.facebook.com/IndonesiaHebatJokowi
https://twitter.com/jokowi_do2

7/01/2014

Pilih Jokowi, lepas jilbab?

#JokowiAdalahKita #salam2jari #ogahdibohongi #pintarpilih2

T: Kok bisa-bisanya ya mereka suruh copot jilbab kalau pilih Jokowi?

J: Karena mereka yang menyuruh lepas jilbab merasa memiliki kewenangan untuk menetapkan arti Islam bagi orang lain, dan bagi mereka memilih Jokowi berarti bukan Islam.

Pola logika yang sudah tidak bisa lagi membedakan antara partai politik dengan religi. Pola pikir mereka menjadi represif dan intoleran. Mereka yang biasa mencampuradukkan antara pluralisme dan pluralitas kemudian menyatakan bahwa Bhinneka adalah asing. Musyrik. Bisa sampai mengatakan bahwa Pancasila bukan Indonesia.

Iya. Ada yang pikirannya seperti ini. Syukur belum semua. Jangan sampai.